Manisnya Buah Kesabaran

9/11/2012

Sedikit cerita pendek yang gue tulis untuk tugas mata kuliah Pengantar Ilmu Pertanian. Gue disuruh nulis pengamalan yang berkaitan dengan ciri ilmuwan. Walaupun cerita ini sedikit sudah pernah gue posting, tapi tidak ada salahnya gue post lagi. Gak sama kok, disini gue nulisnya lebih bener aja kayak cerpen :P monggo dibaca :)

Saat saya memasuki bangku sekolah menengah pertama, saya dimasukkan oleh orang tua saya di tempat les bahasa Inggris di dekat rumah saya di Bekasi. Untuk dapat menjadi salahsatu murid disana, saya harus mengikuti ujian masuk untuk menentukan kelas sesuai levelnya. Saat itu saya sedang tidak fokus dan masih menganggap ujian itu main-main. Ah yang penting kan sudah bayar, pasti diterima. Saya berpikir seperti itu. Hasilnya, saya memang diterima tetapi dengan nilai rendah sehingga saya masuk di level terendah. Saya pun hanya bisa pasrah. Hingga saya menginjak usia 17 tahun saat saya duduk di kelas 11, level yang saya duduki pun berada di level terakhir pada program itu. Karena setiap kenaikan level ujian yang saya lalui selalu berakhir lancar, saya pun kembali menganggap remeh ujian akhir yang akan saya lalui tahun itu. Bedanya dengan ujian kenaikan, ujian kelulusan ini terdapat presentasi. Saya pikir presentase penilaian saat presentasi lebih besar dibandingkan ujian tertulisnya. Berbulan-bulan saya persiapkan untuk bahan presentasi. Hingga pada waktunya tiba saat ujian, saya sama sekali tidak belajar untuk ujian tertulis, semua soal dan essay saya kerjakan spontan. Sementara pada saat presentasi saya lakukan sangat maksimal. Saat presentasi, presentasi saya terbilang cukup bagus dibandingkan dengan teman-teman saya yang lain, karna itu membuat saya semakin percaya diri bahwa saya akan lulus.

Seminggu kemudian, hasil ujian pun keluar, saya bergegas menghampiri papan pengumuman yang letaknya di depan gedung les saya. Ada pikiran yang berkata “ah saya pasti lulus, saya sudah dari titik nol masuk les disini,” tapi ada juga pikiran “kalo saya tidak lulus bagaimana, padahal saya sudah bertahan disini sudah hampir lima tahun.” Akhirnya saya memberanikan diri untuk mencari nama saya di antara ratusan siswa yang juga telah menghadapi ujian. Saya cek lagi. Dan saya cek lagi nama yang tertera di papan. Tidak salah kok. Tapi kok? Dengan pikiran kosong saya kembali menghampiri ibu dan kakak saya yang tadi mengantar saya melihat pengumuman.
“Gimana dik, hasilnya?” tanya ibu saya.
“Gak lulus, ma.” Saya menjawab dengan nada biasa saja, seakan bukan masalah besar. Tapi di dalam hati saya, rasanya saya ingin menangis sejadi-jadinya, berteriak bahkan tidak mau kembali ke tempat itu lagi.

Setelah berhari-hari bersedih hati, saya minta sama orang tua saya untuk minta istirahat melanjutkan les saya dengan alasan belum siap kalau terulang lagi. Saya pending selama sekitar enam bulan. Lalu saya kembali melanjutkan aktivitas les saya. Hari pertama masuk kelas saya sempat mengalami trauma, karna guru yang mengajar saya sama seperti saat saya gagal waktu itu. Saya sempat bolos dan tak mau masuk. Memang saat itu saya bersikap sangat kekanak-kanakan, sampai-sampai saya yang tidak pernah menangis di depan ibu saya menangis dan memohon untuk membatalkan les. Tapi ibu saya tetap sabar menasehati saya, ibu saya bilang bahwa saya anak yang kuat dan bisa melewati level ini yang hanya tiga bulan. Setelah dibujuk seperti itu saya akhirnya menyerah juga.

Selama saya mengulang les saya, memaksakan diri agar selalu berpikir positif. Karena itulah saya bisa bertahan selama tiga bulan, dan saya mencoba agar tidak meremehkan apapun yang saya pelajari di les. Di kesempatan kedua saya berhasil lulus. Allah juga seperti membalas segala jerih payah dan kesabaran saya, saat ujian essay, topik yang saya harus tulis sama persis dengan apa yang saya pelajari siang itu, ditambah lagi, saya di beri applause khusus oleh guru saya. Betapa sangat bersyukurnya saya, satu kegagalan yang membuat saya bangkit dan semakin kuat. Dan dari kegagalan itulah saya yakin, meskipun kita mengalami kegagalan, kita harus selalu sabar dan penuh tawakal. Karna dibalik kesabaran akan tertoreh buah yang manisnya semanis madu. Mungkin kita gagal mendapatkan emas hari ini, tapi jika kita bersabar, tuhan akan berikan kita mutiara esok hari.

IPB

MPKMB, Tiga Hari Untuk Selamanya

9/03/2012

Biasanya, memasuki masa2 sekolah baru itu ada kegiatan pengenalan sekolah untuk siswa baru yang dinamakan ospek, begitupun IPB, kampus segitiga tempat gue menempuh pendidikan sekarang. Saat mendengar kata ospek, biasanya yang ada di pikiran siswa itu adalah 'dikerjain', 'ribet', 'penampilannya norak' dan banyak lagi. Tapi IPB sangat2 jauh dari kesan seperti itu. Dari mulai penugasannya, kegiatan acaranya, sama sekali gak ada yang namanya dikerjain, dibikin lucu2an sama kakak kelas. Malah rangkaian acaranya ngebuat kita jadi makin cinta kampus, semakin pede bahwa kita beruntung masuk IPB.

Gimana nggak beruntung masuk IPB? sambutannya aja, selain sambutan dari pak rektor (tentunya), sejumlah menteri2 pun ikut dateng buat memeriahkan acara, seperti menteri pendidikan, menteri pertanian dan menteri kebudayaan. Yang mungkin gak bakal dijumpai kalo gue gak masuk kampus selain IPB.

Walaupun ada yang namanya KPK, yang bertugas untuk menegakkan kedisiplinan saat acara berlangsung (yang kakak2nya termasuk galak), tapi karna ketegasan dari KPK itulah yang bikin anak2 49 kompak dan mematuhi rundown acara dengan baik. Gue pun mikir, kalau seandainya pas hari pertama evaluasi acaranya gak di tegasin mungkin hari kedua gak bakal ada yang namanya kekompakan saat aksi.

Nah, bicara soal aksi, aksi disini bukan demo yang anarkis yang biasanya malah memicu bentrok antar warga. Justru aksi di IPB malah menyuarakan aspirasi rakyat yang menjunjung tinggi hak mahasiswa dan rakyat Indonesia, sama sekali tidak ada kekerasan. Di aksi ini kita diajarin kompak antar sesama temen, diajarin bekerja sama, dan bagaimana kita menghadapi provokator2 yang biasanya akan merusak jalannya aksi. Diantara 3900an mahasiswa yang turun ke jalan, gue berada di hampir belakang barisan yang terdiri dari mahasiswi dan di border (dilindungin) sama mahasiswa 49 nya. Suara "HIDUP MAHASISWA!" terdengar hampir di sepanjang jalan. Jargon2 seperti "KAMI BERSATU MEMBERANTAS KORUPTOR" dan lagu Totalitas Perjuangan juga terdengar bergema di jalan2 kampus dramaga ini.

Gue yang hampir kehabisan oksigen karna saking padatnya orang, hampir nyerah. Tapi ngeliat semangat anak2 49 dan border yang gak ada capek2nya melindungi barisan mahasiswi, gue kembali semangat sambil ngambil oksigen di atas kepala udah kayak ikan di aquarium.

Sementara itu beberapa provokator yang terdiri dari kakak kelas mencoba menembus pertahanan dua lapisan border yang mengelilingi. Beberapa kakak kelas bahkan berpenampilan seperti layaknya anak 49 yang memakai baju gugus untuk dapat menembus pertahanan. Tapi dengan kekompakan, dan kerjasama, akhirnya border tidak terkalahkan, sungguh saat itu gue ngerasa sangat terharu dan bangga sekali menjadi salah satu mahasiswa disini yang tidak mementingkan diri sendiri.

Di hari ketiga, tepatnya hari terakhir MPKMB 49, seluruh anak2 angkatan 49 beserta panitia yang totalnya adalah 4100an orang, bersama2 makan nasi analog, yaitu nasi non beras hasil produk IPB, ini adalah salah satu hasil kebanggaan IPB yang sebelumnya banyak juga prestasi2 gemilang IPB di tahun 2012 ini. Bahkan mayoritasnya di cetuskan oleh anak2 Fateta, dan jurusan Ilmu dan Teknologi Pangan. Sangat. Sangat membanggakan.

Rasanya satu posting tidak cukup menggambarkan betapa gue sangat bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT, yang telah memberi gue kesempatan untuk mencicipi bahkan merasakan menjadi seorang mahasiswa IPB yang nantinya akan mencetuskan banyak lagi prestasi2 dahsyat yang mengharumkan nama bangsa. Alhamdulillah..


Foto2: BMKMIPB


terima kasih sudah membaca, see you next posts :D