cerita lepas

TIOR - A Greeds of Human

9/23/2018

Tepat setahun lalu,  tanggal 22 September 2017, gue pernah mimpi imajinatif banget.  Gue kira mimpi itu adalah flashback dari apa yang pernah gue tonton di bioskop/tv, tp ternyata ngga. Entah kenapa jalan ceritanya real banget di kepala. Saking sedihnya ending mimpi gue ini, gue kebangun karna gue nangis sesenggukan. Gak paham, kan? Gue apalagi 😂

Sempet bahkan cari2 cara gimana submit ide cerita random ke film hollywood gitu biar dijadiin film karna menurut gue alur ceritanya worth to convert to be a movie. Lanjut aja ya gue kutip apa yang gue tulis di notes setahun lalu. Maafkan jika draftnya kasar ya. Emang bukan penulis 😅

__________________

Miels adalah seorang wanita yg berprofesi sebagai kepala chef kapal. Ketertarikannya terhadap kapal bermula dari semenjak kecil sang ayah sering mengajaknya ikut saat berlayar. Menurun dari profesi ayahnya yang pernah menjadi kapten ternama di kapal ferry yang sudah menjelajah hampir di seluruh benua, dia kemudian ikut andil dalam mengurusi kapal yang sudah menemani ayahnya selama 23 tahun. Sayang, ayahnya sudah meninggal 5 tahun lalu. Satu2nya peninggalan yang beliau berikan hanya kapal ferry tua miliknya dan sahabat setia yang selalu mendampinginya berlayar, namanya Tior. Well, Tior bukan manusia, tapi seekor paus. Aneh bukan? Bahkan seluruh awak kapal mengenalinya karna sering membantu memberi peringatan jika suatu waktu badai datang menghadang dan mengganggu pelayaran mereka.

Kapten kapal yang juga teman baik ayahnya, kini sudah pensiun dini karna ingin mengurusi keluarga kecilnya di kota. Seth, pemuda yang saat kecil pernah ikut berlayar bersama ayah Miels, menjadi satu-satunya pengganti menjadi kapten kapal. Miels sebenarnya tidak setuju, karna Seth belum pernah menjadi kapten kapal besar sebelumnya. Menurutnya, Seth dulu hanya bocah yang mengganggu ayahnya ketika bekerja, dan tumbuh menjadi nahkoda berbagai macam yacht di negaranya. Tentu jauh berbeda dengan ferry, dari segi kelas pelanggan dan durasi pelayarannya. Miels dulu iri sekali dengan Seth, karna ayahnya selalu meluangkan waktu untuk mengajari Seth tentang pelayaran saat kecil. Sementara Miels hanya seorang gadis kecil yang hanya boleh membantu di dapur saat itu.

Mengetahui bahwa Miels sekarang tumbuh menjadi wanita cantik yang mandiri, Seth perlahan belajar bagaimana cara memenangkan hati Miels. Bahkan tidak hanya hati Miels, setiap menjelang shubuh, Seth pergi ke pelataran belakang kapal, dimana terdapat spot paling dekat dengan permukaan laut, ia mencoba untuk mengambil hati Tior, paus kesayangan Miels. Selera humor Seth yang selalu konsisten menggoda Miels pun perlahan membawa hubungan mereka menjadi love and hate relationship. Seluruh awak kapal pun sering menggoda ketika mereka terlihat sibuk berdebat. Semua tahu itu, Miels hanya tidak pintar menunjukkan ekspresi sukanya kepada Seth.

Suatu hari, tamu vvip dari sebuah perusahaan yang mendominasi di Canada ingin berlibur dengan menggunakan ferry milik Miels. Ia sangat berharap servicenya tidak mengecewakan. Siapa sangka, permintaan petinggi perusahaan itu banyak sekali, dimulai dari bantal yang harus berisikan bulu angsa, kemudian seluruh properti kapal tidak boleh membentuk sudut karna dia sangat parno dengan benda-benda tajam. Ada satu permintaan si petinggi yang diminta kepada Seth saat pelayaran sudah memasuki hari ke-3. Ia ingin makan daging paus. Ia menyadari setiap subuh dan sebelum tenggelamnya matahari, Ia melihat seekor paus muncul ke permukaan. Ia berpikir jenis paus tersebut banyak di perairan terbuka. Mendengar hal itu Miels spontan langsung meminta Seth menolak permintaan si petinggi, ia tahu paus adalah salah satu satwa yang dilindungi oleh pemerintah. Selain itu ia juga tidak bisa membayangkan jenis paus yang sama dengan Tior, sahabat kesayangannya harus dibunuh hanya untuk memuaskan perut manusia.

Keesokannya, seperti yang dilakukan Miels setiap harinya, ia mempersiapkan makanan dari berbagai macam jenis makanan seluruh dunia yang ia buatkan untuk tamu vvip. Miels kemudian menyajikan makanan di depan tamu, setelah sebelumnya meminta sang asisten mencicipi makanannya, penanda apa yang telah dihidangkan telah aman.

Satu yang Miels sadari, seharusnya tuna yang hari itu dihidangkan memiliki warna yang fresh merah cerah. Namun yang disajikan memiliki warna merah tua sedikit pucat. Miels langsung menuju dapur dan mengecek apakah daging yang dipakai sudah tidak segar lagi yang dimungkinkan karena suhu penyimpanan refrigerator container yang bermasalah. Namun Miels menyadari sesuatu dan langsung mencoba sepotong dari daging tuna tersebut. Sangat berbeda. Ia tahu persis rasa tuna yang selama ini dia buat. Bahkan ia belum pernah merasakan daging ikan yang dia rasakan itu. Miels langsung menanyakan kepada seluruh awak dapur, ikan apa yang barusan ia cicipi. Seluruh awak tidak ada yang menjawab, dan gerak geriknya mencurigakan, seperti ada yang disembunyikan.

Memiliki firasat yang buruk, Miels langsung saja menodong Seth, yang pasti mengetahui ikan apa saja yang awaknya tangkap saat malam hari. Seth tidak menjawab apa-apa dan mengalihkan perhatiannya kepada tugas awak kapal. Kemudian Miels pergi ke pelataran, ia membunyikan siulan khasnya hanya untuk memanggil Tior ketika ia ingin mengajaknya main. Tidak ada jawaban. Siulan kedua, tetap tidak ada. Siulan ketiga, masih sama. Ia menunggu sampai malam tiba, berharap Tior akan datang dari mengurusi anaknya yang baru berusia 4 bulan yang selalu berenang bersamanya. Namun yang muncul ke permukaan hanya anaknya, ia mengeluarkan suara memekik seperti meronta karna sedih. Miels sudah kehabisan akal. Ia memanggil Seth dan menanyakan dimana keberadaan Tior. Apakah semalam Tior masih mendampinginya berlayar atau tidak. Seth diam. Dia tidak tahu apa yang harus dikatakan kepada Miels. Saat itu juga Miels menumpahkan seluruh kekecewaannya pada Seth, memukuli pundaknya keras seakan dapat mengulangi hal yang sudah terjadi. Miels tahu, firasatnya benar. Daging ikan yang disajikan oleh tamunya dini hari bukanlah tuna, itu daging paus.

"Kenapa harus Tior, Seth? Kamu tau Tior adalah satu-satunya peninggalan ayah selain kapal ferry ini" kata Miels sambil terjatuh berlutut karena kedua kakinya lemas tidak tahu harus berbuat apa.

"Maafkan aku Miels, aku harus mengambil keputusan karena si petinggi terus memaksaku karena jika permintaanya tidak dapat dipenuhi ia akan mencabut izin berlayarku dan ia menawarkan hadiah yang cukup fantastis"

"AKU TIDAK HABIS PIKIR KAMU MENJUAL TIOR DEMI UANG, SETH!? DIMANA HATI NURANIMU??!" ucap Miels membabi buta.

Tanpa berpikir panjang Miels langsung pergi kembali ke kamarnya dan menangis meratapi kepergian Tior. Ia merasa sangat bersalah kepada ayahnya karena tidak bisa menjaga Tior dan membiarkan kapal kesayangan ayahnya dinahkodai oleh seseorang yang tidak memiliki hati nurani seperti Seth.

Setelah kejadian itu, Seth sangat merasa bersalah. Ia meminta maaf kepada Miels dan meninggalkan kapal karena dia tidak layak menjadi kepala yang baik. Ia mengira Miels akan memaafkannya seiring berjalannya waktu. 3 tahun berlalu, dan setiap kali ferry Miels pulang ke pelabuhan, yang Seth dapati hanya tatapan sinis seperti jijik dengan apa yang sudah Seth perbuat.
_____________________

Animals really don't deserve humans. Hanya karena untuk kesenangan sesaat, perasaan lezat yang dirasakan mulut dan kepuasan perut, manusia rela menjual hati nuraninya dengan uang. Salah apa hewan-hewan itu yang menjadi kebahagiaan manusia dengan kematiannya? Padahal sistem pencernaan manusia yang membuat mereka puas itu hanya bertahan selama 4 jam, namun apakah mereka tidak berpikir,  manusia membunuh hewan yang tidak lahir 4 jam sekali? Sad but it happened in reality.